Sabtu, 23 Mei 2009

Bagaimana mengembangkan masyarakat Linux dikalangan dunia pendidikan khususnya di perpustakaan sekolah dan perguruan tinggi oleh Aroem Andajani




Tanpa bermaksud memposisikan diri sebagai pemuja teknologi, namun kreativitas dan inovasi dapat memunculkan suatu karya setidaknya akan bersentuhan dengan teknologi, dimana dalam kontek pemikiran ini akhirnya dapat menumbuhkan kesadaran pada diri manusia, akan arti pentingnya mempelajari berbagai perkembangan Teknologi Informasi. Hadirnya momen penting ini, diharapkan dapat pula merubah pandangan masyarakat awan yang melihat pustakawan hanyalah sebagai penjaga buku, lambat laun image tersebut akan terkikis melalui kegiatan yang dilakukan sesuai standard profesionalisme pustakawan

Di lain pihak, perpustakaan memiliki porsi yang tidak terlalu besar dalam hal anggaran, sementara itu kebutuhan investasi yang harus dianggarkan, baik untuk pertambahan koleksi, maupun sarana pendukung utamanya pada pengembangan Teknologi Informasi harus terpenuhi agar informasi sampai kepada yang membutuhkannya.

Konkritnya, kalau sekolah atau perguruan tinggi termasuk unit perpustakaan dalam kebijaksanaannya direkomendasikan menggunakan peranti lunak berbasis open source (Linux), dan tidak harus tergantung pada peranti lunak yang berlisensi, maka anggaran inventasi di bidang piranti lunak tersebut dapat dialihkan untuk kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang meliputi:

1. melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat sekitar sekolah/ kampus, melalui pemberian fasilitas dan atau pengajaran tentang pengembangan ketrampilan yang bersifat teknis.

2. memberikan beasiswa kepada siswa, mahasiswa, guru, dosen dan para staf yang membantu dan terlibat pada terselenggaranya pendidikan dan pengajaran.

Pikiran-pikiran tersebut sebagai upaya awal guna mengubah konsep berpikir kita dalam melakukan suatu kegiatan yang berhubungan keadministrasian dan penggunaan data, kita tidak harus bergantung dan terpaku pada satu peranti lunak saja, namun seyogyanya mampu mengoprasikan dari berbagai piranti lunak, mengingat fokus kegiatan kita ada pada dunia pendidikan dan pengajaran yang notabene-nya sebagai tempat masyarakat bertanya hal – hal yang berhubungan dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan.

Sesuatu komunitas berkembang maju dan besar, tidak datang begitu saja, namun perlu sentuhan tangan-tangan yang trampil dan memiliki dedikasi tinggi serta dilakukannya dengan sepenuh hati. Demikian halnya mengenalkan dan memasyarakatkan Linux, akan lebih menarik kalau kegiatan ini dimulai dari kerja-kerja individu yang diaplikasikan pada setiap bidang kegiatan di unit-unit kerjanya. Melalui media inilah, diharapkan dapat memiliki magnet, hingga masyarakat yang melihat dan membacanya akan tersentuh dan tertarik memanfaatkan peranti lunak berbasis open source (Linux) tanpa adanya unsur keterpaksaan.

Berkaitan dengan dukungan terhadap memasyarakatkan Linux dilingkungan pendidikan, dari paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa:

1. sosialisasi perlu dilakukan dengan pendekatan personal, hingga menumbuhkan kesadaran masyarakat yang akhirnya berminat dan tertarik belajar Linux, serta implememtasinya dapat dimulai melakukan kegiatan di unit kerjanya.

2. sosialisasi dapat dilakukan melalui kebijaksanaan struktural, yang diterapkan pada unit-unit kergiatan yang bersentuhan dan melakukan aktivitas dengan komputer.

3. sosialisasi dapat dilakukan melalui kebijaksanaan pasar, seperti yang terjadi pada saat ini, ketika membeli komputer, pengguna komputer akan dihadapkan suatu pilihan yaitu dengan menggunakan peranti lunak gratis (Linux) atau yang berlisensi (Windows).

Artikel selengkapnya dapat di download pada http://www.gabunpustaka.co.nr/








Tidak ada komentar:

Posting Komentar